BAGAIMANA NASIB TV DIGITAL PASCA PEMBATALAN PERMEN 22 OLEH MA

Keputusan MA  pada prinsipnya tidak berlaku surut, artinya seleksi multiplekser (MUX) yang sudah terjadi di Jawa & Kepulauan Riau tidak bisa dibatalkan.  Berdasarkan Peraturan MA no 1 tahun 2011, putusan Yudicial review berlaku 90 hari sejak diserahkan amar putusannya. Artinya PERMEN 22 batal dengan sedirinya setelah waktu 90 hari. Tapi sekarang salinan putusan MA belum kunjung diberikan. Maka sebelum 90 hari, pemerintah harus sudah membuat PERMEN baru supaya tidak ada kekosongan hukum sebagai landasan penyelenggaraan TV digital. Kalau kita pelajari landasan dari putusan MA tersebut, PERMEN 22 itu dibatalkan, bukan karena lemah dasar hukumnya seperti tudingan orang, tapi karena materinya dianggap bertentangan dengan UU 32 & PP 50.  Hal itu logis menginat Permen 22 memang tidak lengkap, hanya berisi pokok-pokok dasar digitalisasi, aturan lengkapnya tersebar di beberapa Permen lain dan beberapa Keputusan Menteri. 

Jadi kesannya PERMEN 22 bertentangan dengan prinsip UU 32, padahal kalau dibaca bersama PERMEN-PERMEN yang lain akan kelihatan prinsipnya sama.Tapi memang keputusan MA amat yuridis formal, tanpa memahami aspek teknologi, misal menurut MA sistem digital tidak boleh menggantikan analog, Menurut MA analog harus tetap hidup, karena UU menyebutkan sistem penyiaran terdiri dari sistem analog dan digital, sehingga keduanya harus ada. padahal secara Teknologi, analog tidak bisa dipertahankan terus, negara & masyarakat akan rugi, karena tidak efisien menghambat perkembangan internet. Analog boros frekuensi, padahal kita butuh frekuensi termasuk untuk broadband internet yang semakin tinggi permintaannya. Kalau tetap analog, kita ketinggalan peralatan, karena semua fabrikan arahnya hanya memproduksi digital, karena perkembangan teknologi. Makanya secara teknologi sistem analog memang harus off, sesuai dengan road map yang sudah diputuskan, untuk itu perlu penyesuaian regulasinya.

Nanti Permen baru pengganti no 22, akan dibuat lebih lengkap supaya cocok dengan UU, gabungan banyak permen dan menyesuaikan dengan keputusan MA. Jadi dengan TV digital itu diversity of content dan diversity of ownership lebih terjamin dibanding analog sekarang.  Jadi program TV Digital tetap jalan terus, berbarengan atau sekalian dengan membahas RUU Penyiaran yang baru, tidak perlu saling tunggu, karena teknologi itu berjalan cepat sekali. Kalau kita ketinggalan menerapkan digitalisasi televisi, maka bisa jadi teknologi itu sudah tidak relevan lagi. 


Kalau ada yang menganggap TV Digital itu melanggengkan monopoli, pendapat itu jelas sesat pikir, dan bukan hal baru.  Bisa jadi karena yang dilihat hanya pemenang seleksi Mux, yang menurut mereka kok itu itu saja. Lha ini memang pembangunan infrastruktur, kalau membangun infrastruktur yang dipilih memang harus yang paling menguntungkan publik. Yaitu yang bisa membangun cepat, berkomitmen membangun sampai pelosok, & bersedia menyumbang Set Top Box untuk rakyat. Ukurannya jelas. Makanya hanya dengan dua kali seleksi, kita bisa kumpulkan sekitar 7,5 juta set top box dari para pemenang seleksi Mux,  ditambah 1 juta dari pemerintah yang akan dibagi gratis.  

Jadi dilihat dari manapun dengan digitalisasi TV diversity of content, malah semakin beragam, karena jumlah saluran tv bisa berlipat ganda (bisa sampai 72 saluran) di satu zona. masyarakat juga akan dapat pembagian Set top box, yaitu alat penerimaan tv digital untuk TV yang masih analog yang ada di masyarakat. Perlu diketahui harga per unit sekitar sekitar 300 ribu.
Untuk menjamin diversity of content dan diversity of ownership, pemenang Mux tidak boleh menggunakan semua kanal yg tersedia, maksimal hanya 3 slot, sedangkan 9 slot yang lain harus bisa di akses oleh perusahaan di luar pemilik Mux. Dalam hal ini berlaku prinsip open akses  dan non diskriminatory. Artinya Pemilik Mux harus membuka slot-slotnya dari sewa pihak lain dengan tarif yang sama.


Prinsip itu ada di aturan dokumen seleksi, yg nantinya akan disatukan di PERMEN yang baru. supaya permen baru tak dikhawatirkan lagi. Jd walau pemenang Mux berasal dari perusahaan-perusahaan besar, karena memang untuk membangun infrastruktur baru, tapi contentnya jauh lebih banyak dari berbagai owner.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *